Silvy
06 Januari 2011

Malam ini tanpa sengaja aku membaca kembali Direct Message Twitter antara aku dan orang yang aku kasihi. Ada interaksi yang hidup di sana. Interaksi yang bukan sekedar basa-basi atau rutinitas, tapi ada pembicaraan yang hidup di sana. Aku bisa merasakan ada ketertarikan satu sama lain dalam pembicaraan tersebut. Kehadiran yang nyata dari masing-masing pihak.
Sejujurnya, aku sangat merindukan masa-masa itu. Masa dimana aku bisa mengungkapkan apapun yang aku rasa kepadanya, tanpa ada perasaan takut akan respon penolakan yang ia berikan ataupun takut akan mengganggu dirinya.
Belakangan ini aku banyak marah. Marah karena tidak menerima keadaan yang kini telah berubah. Tidak ada lagi kata-kata manis. Tidak ada lagi perasaan bebas ketika hendak mengungkapkan segala sesuatunya. Tidak ada lagi kehadirannya yang aku rasakan. Ia seolah-olah membangun tembok antara aku dan hidupnya.
Tanggal 5 kemarin, aku membuat suatu kesalahan. Aku sadar setelah aku merenunginya di kamar sebelum mengantar kembaranku ke bandara. Aku bilang padanya kalau aku membencinya. Aku sadar bahwa aku tidak membencinya, aku mencintainya. Hanya saja aku benci keadaan yang sekarang ini terjadi.
Kadang dalam kesendirianku, aku termenung. Memikirkan apakah sesungguhnya ia masih mencintaiku, sama seperti ketika dulu ia memintaku untuk jadi kekasihnya? Kesalahan apa yang kubuat sehingga ia kini berubah? Apakah aku sudah mengecewakannya? Apa ia sudah jenuh terhadapku?
Aku banyak bertanya mengenai kondisi saat ini kepada orang-orang terdekatku. Aku sungguh sadar, aku tidak bisa membuatnya mencintaiku dengan cara yang aku inginkan. Dan kini aku belajar untuk menerimanya. Hal tersulit yang harus aku terima adalah dulu ia bisa melakukannya, dan sekarang tidak. Dulu, aku sungguh merasakan bahwa ia sungguh menyayangiku. Dan aku tidak mengerti kenapa saat ini keadaan berubah.
Seringkali aku bertanya dalam doaku, apa sungguh aku ini tulang rusuknya? Perjalanan yang aku hadapi semakin berat. Aku tidak mengerti. Sungguh tidak mengerti. Aku hanya tahu satu hal, aku mencintainya. Meskipun itu berarti aku harus menjalani proses yang cukup menyakitkan bagiku.
Aku harus terbiasa dengan reaksi penolakan yang ia berikan. Cukup sulit bagiku karena itu adalah daerah rentan bagi jiwaku. Aku punya banyak PR mengenai penerimaan diri. Sulit bagiku menerima penolakan yang diberikan orang lain. Cukup banyak penolakan yang pernah aku rasakan, dan itu aku masih berjuang untuk menerimanya. Kali ini PR yang aku miliki lebih besar, karena reaksi itu muncul dari orang yang paling aku kasihi.
Aku berusaha untuk tidak memiliki harapan apapun lagi terhadapnya. Meskipun aku saat ini tetap masih memiliki sedikit harapan bahwa ia sedikit saja memikirkan perasaanku. Dan setidaknya menunjukan kepadaku bahwa ia memang mencintaiku. Apa aku terlalu banyak meminta? Bisakah ia melakukannya untukku?
Aku sungguh-sungguh takut melakukan apapun kepadanya sekarang. Bahkan hari ini aku sangat ingin memeluk dan dipeluk olehnya. Tapi tidak aku lakukan. Lagi-lagi aku takut ia menolaknya. Entah apa yang harus aku lakukan agar aku bisa melihat kembali kekasihku yang dulu. Kekasihku yang penuh kasih sayang dan peduli padaku. Aku benar-benar merindukannya. Tuhan, tolong jangan ambil dia. Kembalikan ia padaku. 
Labels: | edit post
Reactions: 
0 Responses