Silvy
Perempuan itu duduk sambil menatap nanar dirinya di cermin.
Bagai tak berisi jiwa, ia terdiam dalam bisu.
Tak terasa ada bulir-bulir hangat yang menetes dari sudut matanya.
Bibirnya gemetar, tenggorokannya tercekat. Ia menahannya.
Sunyi.. Sepi.. Ia biarkan pipi merahnya dibasahi tetes air mata.
Ia biarkan pula kedua matanya tetap terbuka.
Menatap sosoknya,  pada cermin di dinding kamarnya.
Rasa perih itu terus menderanya, air mata tak kunjung pergi dari wajahnya.
Inikah yang ia dambakan? tanyanya pada batin yang membisu.
Seperih ini kah mendapatkan sesuatu yang telah lama diidamkan?
Perempuan itu kian memaki, memaki dirinya sendiri.
Memaki pikiran serta hatinya.
"Mungkin Tuhan sedang memberi pelajaran padaku" dalam bisik ia bersuara..
"Ia telah memberikan apa yang aku minta, dan kini aku mempermainkan-Nya." lagi-lagi ia berkata dalam bisik yang hanya dapat didengar oleh dirinya.
Perempuan itu kembali menatap cermin.
Dilihatnya sosok gadis yang sangat kacau. Ia tidak mengenalinya.
Perlahan perempuan itu menyunggingkan senyum.
Senyum samar, hanya untuk memastikan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kata orang, ada pelangi sehabis hujan. Entah kapan hujan ini akan berhenti" Perempuan itu memegang kedua pipi yang masih dibasahi oleh air matanya.
Labels: | edit post
Reactions: 
0 Responses