Silvy
Andai kata aku boleh mengeluh, rasanya ingin sekali bisa mengeluh.

Tapi diri ini, batin ini sama sekali melarangnya.

Tidak ada gunanya aku mengeluh. Keluhan tidak menyelesaikan apapun.

Tidak dengan pekerjaanku, begitu juga dengan tugas-tugasku.

Jadi sekali lagi, batin ini melarangnya.

Kadang, aku merasa sangat lelah, sangat tertekan.

Tidak ada yang dapat aku lakukan. Semua terasa begitu berat dan menimpaku tanpa ampun.

Ingin aku teriak, “Hey, beban ini sungguh berat. aku tidak sanggup” tapi lagi-lagi batin ini mengambil alih.

Tidak ada kata tidak sanggup dalam kamus hidupku. Meskipun kerap kali aku merasa diriku tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk melakukan suatu hal.

2 sisi diri ini sungguh menyiksaku. Perasaanku dan Pikiranku. Keduanya kerap kali bertentangan, membuatku bingung harus berbuat apa.

Kondisi kontradiktif ini kadang tidak hanya “melukai” diriku sendiri, tapi juga orang-orang yang berada di dekatku. Sensitif menjadi perasaan dominan yang kerap aku rasakan ketika berada di bawah tekanan. Galak mungkin sudah menjadi cap bagi diriku. Kadang sedih rasanya, namun aku sadar hal itu kenyataan. Kenyataan yang entah bagaimana merubahnya. Kenyataan yang membuatku justru semakin tertekan, dan semakin irritable.

Rasanya seperti terjerat lingkaran setan. Aku hanya ingin dimengerti. Sedang lelah untuk terus menerus memikirkan perasaan dan kebutuhan orang lain. Hanya ingin dibela, berada di pihak yang lemah, yang tidak perlu untuk terus menjadi kuat.
Rasanya ingin berteriak, “Hey, Aku juga manusia.” Manusia yang penuh dengan kelemahan. Manusia yang juga punya kebutuhan. Manusia yang juga butuh untuk menjadi lemah. Yang tidak senantiasa menjadi orang yang terlihat kuat.

Tapi apa aku punya kesempatan? Setiap aku menunjukan kelemahan, semua orang berkata bahwa aku harus kuat. Aku pasti bisa melaluinya. Aku sanggup dan harus tetap bersemangat. Rasanya tidak ada kesempatan.

Kerap kali, aku menahan rasa ini sendiri. Menahan tangis hingga dada ini sesak. Dada ini sakit. Aku lelah menangis sendiri. Tapi aku tak punya pilihan. Aku tak mungkin menunjukan kelemahanku. Tidak pada siapapun, tak terkecuali. Mungkin itu hal yang tabu. Baik bagi mereka, maupun diriku sendiri.

Kadang aku merasa diriku sangat cengeng. Tapi aku tak bisa menahan air mata yang jatuh mengalir, meskipun otakku sudah melarangnya. Tak jarang, aku menangis sambil menertawakan kondisiku.

Ketika orang terdekatku marah pun, aku menjadi sangat sedih. Lagi-lagi ingin menangis. Entah apa yang membuatku serapuh ini. Aku merasa ini bukan diriku. Tapi aku sungguh sadar, bahwa ini memang diriku seutuhnya. Diriku yang lemah, diriku yang tidak selalu kuat.

Aku merasa berada dalam kesendirian, meskipun banyak orang yang memperhatikanku. Mereka seperti tidak mengenalku. Mereka tidak paham kebutuhanku. Disatu sisi, aku enggan mengatakan kebutuhanku pada mereka. Sekali lagi, menjadi lemah adalah tabu bagiku dan bagi mereka. Meskipun itu kebutuhanku saat ini. Kebutuhan yang mungkin saja tidak dapat terpenuhi, karena aku tutup serapat mungkin. Meski tetap ada celah yang kerap membuatnya terlihat.

Aku menulis ini, bukan untuk mengeluh. Hanya sebagai media pengungkapan isi hati. Isi hati yang tak mungkin aku katakan pada siapapun. Isi hati yang mungkin tidak diketahui siapa pun. Isi hati tentang jerit dan tangis perih dalam hati yang sunyi.

Ini bukti pelampiasan perasaanku. Perasaan yang tak sanggup aku bendung lagi. Aku berbaginya pada catatan kecil dalam dunia maya ini. Hanya benda ini, satu-satunya yang tidak menganggap kelemahanku sebagai sebuah keburukan. Satu-satunya benda yang menerimaku apa adanya. Bahkan dengan segala kekurangan yang aku miliki. Tak ada kata yang pernah ia ucapkan, untuk mengomentari apapun dalam diriku, apapun yang aku lakukan, apapun yang aku rasakan. Ia sama sekali tidak pernah menyakitiku, tidak pernah menambah goresan di permukaan hati ini. Tidak sedikit pun.

Mungkin ini egois, tapi aku hanya ingin dimengerti.

 

-A.S. 2010-

| edit post
Reactions: 
0 Responses