Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Silvy
Terima kasih wahai kasihku
Untuk setiap detik dalam hidupmu yang kau bagikan padaku
Setiap potret kejadian, kita alami bersama.


Biarkanlah kita tetap saling mengisi
Setiap memori kenangan kisah kita
dengan cetakan foto cinta
Yang menghiasi album kasih kita


Terima kasih wahai sahabat jiwaku
Untuk setiap suka duka yang kita arungi bersama
Setiap debur gembira dan deru perih, mengisi samudera kisah kita


Biarkanlah kita tetap tegar berdiri
Di atas ketegaran karang cinta 
Mengalahkan gelombang keraguan
Yang dapat mengoyakkan ikatan kasih kita.


Terima kasih wahai teman seperjalananku
Untuk setiap makna hidup yang kau torehkan dalam lembar diriku
Setiap halaman hariku, tercetak kisah sejarah kasih kita.
Labels: , 0 comments | | edit post
Silvy
07 Januari 2011


Pagi hari diawali dengan psikosomatis yang sudah berlangsung selama 2 hari berturut-turut. Mual sudah menemaniku selama 2 hari tanpa penyebab yang jelas. 
Setelah ku telusuri, aku menyadari hal itu disebabkan oleh kecemasanku yang teramat besar ketika hendak bertemu dengan pria yang menjadi pujaan hatiku. Setelah melakukan sebuah kesalahan di tanggal 5 kemarin, hatiku sangat cemas apabila hendak bertemu dengannya. Apakah hari itu akan berlangsung dengan baik? Atau akan ada lagi kah pertengkaran diantara kami di hari itu?
Semalam sebelumnya, tanggal 6 Januari, aku menulis sebuah diary virtual. Aku mengungkapkan banyak hal yang aku rasakan terhadapnya. Betapa aku takut untuk mengkomunikasikan perasaanku, dan kesedihanku akibat tembok yang ia bangun di antara kami berdua.

Aku mengirim tulisanku itu melalui email kepadanya. Tidak darinya ada tanggapan saat itu.

Tanpa ada tanggapan langsung darinya, hariku diawali seperti yang telah ku tuliskan di atas. Psikosomatis. 

Pagi itu, aku datang lebih awal. Aku langsung menuju tempat biasa aku menunggu di pagi hari. Tempat penuh kenangan manis cintaku dengannya. Lantai 5 gedung C di kampusku.
Sesaat aku mengingat kembali semua memori tentang kami. Isak tangis tak dapat ku bendung lagi. Rasa sakit di hatiku kian meradang. Perih. Terluka. 

Lagu "Teruskanlah" yang dilantunkan oleh Agnes Monica sempat menjadi Theme Song kisah cintaku saat itu.
Aku tidak mengenal pria yang katanya adalah kekasihku. Ia bukan pria yang dulu memintaku menjadi kekasihnya. Ia adalah orang yang berbeda dalam rupa yang sama. Hatiku sungguh perih. Kesalahan apa yang aku perbuat hingga ia berubah sedemikian drastisnya?
Saat itu, rasanya hari-hariku kian menggelap. Bintang kecilku telah meredup. Pancaran sinarnya hilang entah kemana.


Tak lama kemudian, ia datang ke tempatku sesuai dengan permintaanku. Aku menyembunyikan tangisku. Melihatnya saja sudah membuat hatiku bak teriris pisau. 



Kami menghabiskan waktu bersama pagi itu. Masih ada kesedihan yang tertinggal, sampai ia menyadari aku tengah menangis. Ia menanyakan hal itu, tapi tidak aku beri penjelasan. Akhirnya ia tidak membahas hal itu lagi. Ia melanjutkan makannya dan aku tetap pada kegiatan awalku, memperhatikan dirinya sambil berkutat dengan pikiran dan hatiku. Aku berusaha membuang pikiran negatifku, dan meyakinkan diriku sendiri bahwa ia sungguh mencintaiku.
Seusai makan, tidak banyak kata-kata yang kami ucapkan. Namun sentuhan-sentuhan yang ia berikan, sorot mata yang ia pancarkan, dan kejahilan kecil yang ia lakukan sungguh terasa berarti bagiku.
Entah kenapa saat itu, tidak ada jarak seperti biasa, aku seolah menemukan kembali pria yang dulu memintaku untuk jadi kekasihnya. Pria yang membuatku jatuh hati.
Aku rasa Tuhan mendengar doaku semalam. Ia mengembalikan pria ini kepadaku.


Hari itu berjalan sangat menyenangkan. Aku sungguh bahagia karenanya.

Canda tawa, tatapan sayang, serta sentuhan-sentuhan kelembutan darinya kembali kurasakan. Aku sangat berharap kondisi ini terus menetap. 
Sudah cukup aku mendapat "hukuman" darinya. Jangan hukum aku lagi dengan jarak apalagi tembok antara aku dan dirinya.
Akan ku akhiri segala kekhilafanku. 
Aku sadar sepenuhnya, hanya dirinya lah yang aku inginkan. 
Aku mencintainya. 
Tidak ada kata lain yang dapat kuucap.
Labels: 1 comments | | edit post
Silvy
06 Januari 2011

Malam ini tanpa sengaja aku membaca kembali Direct Message Twitter antara aku dan orang yang aku kasihi. Ada interaksi yang hidup di sana. Interaksi yang bukan sekedar basa-basi atau rutinitas, tapi ada pembicaraan yang hidup di sana. Aku bisa merasakan ada ketertarikan satu sama lain dalam pembicaraan tersebut. Kehadiran yang nyata dari masing-masing pihak.
Sejujurnya, aku sangat merindukan masa-masa itu. Masa dimana aku bisa mengungkapkan apapun yang aku rasa kepadanya, tanpa ada perasaan takut akan respon penolakan yang ia berikan ataupun takut akan mengganggu dirinya.
Belakangan ini aku banyak marah. Marah karena tidak menerima keadaan yang kini telah berubah. Tidak ada lagi kata-kata manis. Tidak ada lagi perasaan bebas ketika hendak mengungkapkan segala sesuatunya. Tidak ada lagi kehadirannya yang aku rasakan. Ia seolah-olah membangun tembok antara aku dan hidupnya.
Tanggal 5 kemarin, aku membuat suatu kesalahan. Aku sadar setelah aku merenunginya di kamar sebelum mengantar kembaranku ke bandara. Aku bilang padanya kalau aku membencinya. Aku sadar bahwa aku tidak membencinya, aku mencintainya. Hanya saja aku benci keadaan yang sekarang ini terjadi.
Kadang dalam kesendirianku, aku termenung. Memikirkan apakah sesungguhnya ia masih mencintaiku, sama seperti ketika dulu ia memintaku untuk jadi kekasihnya? Kesalahan apa yang kubuat sehingga ia kini berubah? Apakah aku sudah mengecewakannya? Apa ia sudah jenuh terhadapku?
Aku banyak bertanya mengenai kondisi saat ini kepada orang-orang terdekatku. Aku sungguh sadar, aku tidak bisa membuatnya mencintaiku dengan cara yang aku inginkan. Dan kini aku belajar untuk menerimanya. Hal tersulit yang harus aku terima adalah dulu ia bisa melakukannya, dan sekarang tidak. Dulu, aku sungguh merasakan bahwa ia sungguh menyayangiku. Dan aku tidak mengerti kenapa saat ini keadaan berubah.
Seringkali aku bertanya dalam doaku, apa sungguh aku ini tulang rusuknya? Perjalanan yang aku hadapi semakin berat. Aku tidak mengerti. Sungguh tidak mengerti. Aku hanya tahu satu hal, aku mencintainya. Meskipun itu berarti aku harus menjalani proses yang cukup menyakitkan bagiku.
Aku harus terbiasa dengan reaksi penolakan yang ia berikan. Cukup sulit bagiku karena itu adalah daerah rentan bagi jiwaku. Aku punya banyak PR mengenai penerimaan diri. Sulit bagiku menerima penolakan yang diberikan orang lain. Cukup banyak penolakan yang pernah aku rasakan, dan itu aku masih berjuang untuk menerimanya. Kali ini PR yang aku miliki lebih besar, karena reaksi itu muncul dari orang yang paling aku kasihi.
Aku berusaha untuk tidak memiliki harapan apapun lagi terhadapnya. Meskipun aku saat ini tetap masih memiliki sedikit harapan bahwa ia sedikit saja memikirkan perasaanku. Dan setidaknya menunjukan kepadaku bahwa ia memang mencintaiku. Apa aku terlalu banyak meminta? Bisakah ia melakukannya untukku?
Aku sungguh-sungguh takut melakukan apapun kepadanya sekarang. Bahkan hari ini aku sangat ingin memeluk dan dipeluk olehnya. Tapi tidak aku lakukan. Lagi-lagi aku takut ia menolaknya. Entah apa yang harus aku lakukan agar aku bisa melihat kembali kekasihku yang dulu. Kekasihku yang penuh kasih sayang dan peduli padaku. Aku benar-benar merindukannya. Tuhan, tolong jangan ambil dia. Kembalikan ia padaku. 
Labels: 0 comments | | edit post
Silvy

usThank you for our journey during the first month Smile

Let’s through another journey for the next months, together.

To love, care, and share each other in good or bad times Winking smile

Happy 1st month, honey

Red heartRed heartRed heart