Silvy
Eksistensinya begitu nyata
Namun diam tanpa kata
Diri sudah diam tak berdaya
Hanya mengandalkan asa yang mengada

Akankah berkesudahan, atau sang waktu yang masih terus menentukan?
Silvy
Aku lelah.
Lelah dengan semua hal.
Aku lelah berhubungan dengan kurangnya inisiatif
Aku lelah berhubungan dengan kurangnya profesionalitas
Aku lelah.
Lelah.
Silvy
Terima kasih wahai kasihku
Untuk setiap detik dalam hidupmu yang kau bagikan padaku
Setiap potret kejadian, kita alami bersama.


Biarkanlah kita tetap saling mengisi
Setiap memori kenangan kisah kita
dengan cetakan foto cinta
Yang menghiasi album kasih kita


Terima kasih wahai sahabat jiwaku
Untuk setiap suka duka yang kita arungi bersama
Setiap debur gembira dan deru perih, mengisi samudera kisah kita


Biarkanlah kita tetap tegar berdiri
Di atas ketegaran karang cinta 
Mengalahkan gelombang keraguan
Yang dapat mengoyakkan ikatan kasih kita.


Terima kasih wahai teman seperjalananku
Untuk setiap makna hidup yang kau torehkan dalam lembar diriku
Setiap halaman hariku, tercetak kisah sejarah kasih kita.
Labels: , 0 comments | | edit post
Silvy
Sudah lama sepertinya gw tidak menulis di blog ini. Rasanya waktu berlari sangat cepat hingga gw harus terus berlomba dengannya. Tapi gw rasa tidak ada salahnya, membiarkan waktu bergulir sendiri sementara gw mengabadikan momen yang cukup berharga buat gw ini dalam sebuah tulisan.

Tepat 6 bulan yang lalu, pria yang menjadi sahabatku memintaku untuk menjadi kekasih hatinya. Saat itu rasanya bagai tersiram air dingin di siang hari yang sangat panas. Kaget, sejuk, senang, bingung, semua bercampur menjadi satu dalam benak dan hatiku. Masih tergambar jelas dalam benakku, momen di siang hari itu. Aku dan dirinya sedang mengerjakan modul untuk UTS Pelatihan bersama dengan kelompok kami. Tak terbayang sedikit pun dalam benakku, ia akan melakukan hal lucu dan membahagiakan ini.
Saat itu secara tiba-tiba, ia meminta ijin untuk pergi sebentar menemui seorang teman di lantai 6. Posisi kami saat itu, sedang duduk di selasar lantai 5. Aku membiarkannya pergi dan memutuskan untuk tetap mengerjakan modul bersama dengan teman-temanku yang lain. Tidak ada yang sadar telah terjadi sesuatu di antara kami saat itu. Layaknya dua sahabat yang telah berteman sejak semester 1, kami memang cukup dekat saat itu.
Tak lama setelah ia pergi, ada sms yang masuk ke HP ku. Ternyata dari dirinya. Ia memintaku naik ke atas karena seseorang ingin menemuiku. Ku pikir, temannya yang waktu itu pernah aku bantu mengerjakan tugas kuliah. Aku naik ke tempat yang ia minta. Lantai 6, di selasar dekat toilet dan ruang dosenku. Aku menunggu beberapa saat, karena tidak ada siapapun di sana.
Sampai akhirnya, dengan pakaian super rapi ia menghampiriku dengan membawa sebuah nampan rotan kecil berisi penuh dengan potpourri dengan 1 buah wewangian mobil berbentuk pohon. Dengan langkah yang cukup mantap, ia menghampiriku yang saat itu mungkin sangat kaget dibuatnya. Perlahan ia mengutarakan maksud perbuatannya. Berawal dari puisi yang aku post di situs jejaring sosialku. Puisi itu memang kutujukan untuknya. Ungkapan isi hatiku yang hanya bisa menyayanginya dalam diam. Dalam puisi itu, kuumpamakan diriku sebagai sebatang pohon yang selalu menemani sosok manusia yang selalu datang menghampirinya. Menceritakan kegundahannya akibat sesosok wanita yang pernah memiliki hatinya.
Kekacauan terjadi dalam emosiku. Senang, takut, terkejut, tidak percaya, saat itu bercampur dalam ekspresiku. Aku tidak bisa berpikir. Ia tidak mengijinkan aku untuk memberikan jawaban di lain waktu.
Aku sungguh merasa bingung. Aku sangat menyayanginya. Di lain pihak, aku tahu beberapa waktu lalu ia masih bersikeras menunggu wanita yang selalu membuat dirinya gundah. Rasanya benar-benar tak karuan.
Namun, bagaimanapun juga aku tetap menerima permintaannya. Hal yang tak pernah aku sangka sebelumnya.

Selama menjalani 1 bulan pertama, rasanya seperti ada di Surga. Semua terasa indah. tapi tidak begitu ketika memasuki bulan ke 2 dan ke 3. Mulai banyak air mata yang mengalir. Pertengkaran nyaris rutin terjadi. Aku pun mulai goyah dan ragu akan keputusan yang pernah diambil. Rasanya seperti berpacaran dengan orang yang tidak aku kenal sebelumnya. Tetapi, aku memutuskan untuk tetap bertahan, meskipun tidak jarang muncul godaan untuk menyerah.
Setelah melewati fase-fase mengerikan itu, perlahan-lahan hubungan kami seperti masuk ke tahap yang lebih stabil. Tidak terlalu menggebu-gebu seperti bulan pertama, tidak juga terlalu kering seperti bulan ke 2 dan ke 3. Kami mulai bisa saling beradaptasi. Saling menyesuaikan kebutuhan masing-masing. Mulai memahami sedikit demi sedikit satu sama lain dan membawa hubungan kami ke track yang lebih santai.
Ada perasaan cukup senang ketika di masa-masa kami yang sangat sibuk ini, kami bisa menjalani hubungan kami dengan lebih bijak. Pertengkaran bukannya tidak pernah terjadi lagi, hanya hal itu tidak lagi menggoyahkan perasaan yang ku miliki.

Enam bulan ini, sungguh sebuah proses belajar yang penuh makna bagiku. Tanpa keberadaan dirinya dalam hari-hariku, mungkin aku tidak pernah belajar untuk hidup bersama orang lain dengan lebih intense. Aku juga tidak pernah belajar untuk menyadari ada seseorang yang turut berperan penting dalam hidupku selain keluarga.
Dan karena dirinyalah, aku bisa kembali belajar mencintai dan mempercayakan hatiku kepada orang lain yang sangat mungkin untuk mengoyaknya.

Di momen yang sangat berharga ini, aku berharap kami terus dapat menjalin tali cinta kami agar menjadi untaian kasih yang indah dan berharga bagi kami. Agar cinta yang kami miliki tetap dapat bertumbuh dan terus membantu kami untuk saling mengembangkan diri. Semoga kami dapat terus bersama membangun cinta kami di atas dasar kasih Ilahi yang terus menyertai perjalanan cinta kami ini.
Silvy
Aku merindu dalam diam ku
Bermain sajak dengan segenap akal sehat ku
Merangkai untaian kata-kata
Dari rasa yang menyergap tiba-tiba

Aku merindu dalam bisu ku
Dalam keheningan di setiap sudut jiwaku
Tanpa kata yang mampu mengurainya
Menjadi partikel-partikel inti penyusunnya

Hei, Aku rindu kamu
Rasa itu telah ku syairkan padamu
Melintas jauh, jarak antara kita
Membawa penuh, segala cinta yang ada

Dengarlah hai pujaan hatiku
Akan simfoni hati yang kulantunkan ini
Bak melodi yang mengalun merdu
Mengalir lincah menyejukan sanubari

A.S. 2011
Labels: 0 comments | | edit post
Silvy
Ia diam termangu. 
Menatap pada bintang kecil, pengisi cakrawala jiwanya. 
Merasakan kedalaman akan pendar cahaya sang bintang, 
Yang kian hari kian bersinar. 
Ada senyum dibalik diamnya. 
Tanpa kata, ia hantarkan doa dan syukurnya, pada Sang Pencipta. 
Ia dan bintangnya.
A. S. 2011

I see the star
Silvy
07 Januari 2011


Pagi hari diawali dengan psikosomatis yang sudah berlangsung selama 2 hari berturut-turut. Mual sudah menemaniku selama 2 hari tanpa penyebab yang jelas. 
Setelah ku telusuri, aku menyadari hal itu disebabkan oleh kecemasanku yang teramat besar ketika hendak bertemu dengan pria yang menjadi pujaan hatiku. Setelah melakukan sebuah kesalahan di tanggal 5 kemarin, hatiku sangat cemas apabila hendak bertemu dengannya. Apakah hari itu akan berlangsung dengan baik? Atau akan ada lagi kah pertengkaran diantara kami di hari itu?
Semalam sebelumnya, tanggal 6 Januari, aku menulis sebuah diary virtual. Aku mengungkapkan banyak hal yang aku rasakan terhadapnya. Betapa aku takut untuk mengkomunikasikan perasaanku, dan kesedihanku akibat tembok yang ia bangun di antara kami berdua.

Aku mengirim tulisanku itu melalui email kepadanya. Tidak darinya ada tanggapan saat itu.

Tanpa ada tanggapan langsung darinya, hariku diawali seperti yang telah ku tuliskan di atas. Psikosomatis. 

Pagi itu, aku datang lebih awal. Aku langsung menuju tempat biasa aku menunggu di pagi hari. Tempat penuh kenangan manis cintaku dengannya. Lantai 5 gedung C di kampusku.
Sesaat aku mengingat kembali semua memori tentang kami. Isak tangis tak dapat ku bendung lagi. Rasa sakit di hatiku kian meradang. Perih. Terluka. 

Lagu "Teruskanlah" yang dilantunkan oleh Agnes Monica sempat menjadi Theme Song kisah cintaku saat itu.
Aku tidak mengenal pria yang katanya adalah kekasihku. Ia bukan pria yang dulu memintaku menjadi kekasihnya. Ia adalah orang yang berbeda dalam rupa yang sama. Hatiku sungguh perih. Kesalahan apa yang aku perbuat hingga ia berubah sedemikian drastisnya?
Saat itu, rasanya hari-hariku kian menggelap. Bintang kecilku telah meredup. Pancaran sinarnya hilang entah kemana.


Tak lama kemudian, ia datang ke tempatku sesuai dengan permintaanku. Aku menyembunyikan tangisku. Melihatnya saja sudah membuat hatiku bak teriris pisau. 



Kami menghabiskan waktu bersama pagi itu. Masih ada kesedihan yang tertinggal, sampai ia menyadari aku tengah menangis. Ia menanyakan hal itu, tapi tidak aku beri penjelasan. Akhirnya ia tidak membahas hal itu lagi. Ia melanjutkan makannya dan aku tetap pada kegiatan awalku, memperhatikan dirinya sambil berkutat dengan pikiran dan hatiku. Aku berusaha membuang pikiran negatifku, dan meyakinkan diriku sendiri bahwa ia sungguh mencintaiku.
Seusai makan, tidak banyak kata-kata yang kami ucapkan. Namun sentuhan-sentuhan yang ia berikan, sorot mata yang ia pancarkan, dan kejahilan kecil yang ia lakukan sungguh terasa berarti bagiku.
Entah kenapa saat itu, tidak ada jarak seperti biasa, aku seolah menemukan kembali pria yang dulu memintaku untuk jadi kekasihnya. Pria yang membuatku jatuh hati.
Aku rasa Tuhan mendengar doaku semalam. Ia mengembalikan pria ini kepadaku.


Hari itu berjalan sangat menyenangkan. Aku sungguh bahagia karenanya.

Canda tawa, tatapan sayang, serta sentuhan-sentuhan kelembutan darinya kembali kurasakan. Aku sangat berharap kondisi ini terus menetap. 
Sudah cukup aku mendapat "hukuman" darinya. Jangan hukum aku lagi dengan jarak apalagi tembok antara aku dan dirinya.
Akan ku akhiri segala kekhilafanku. 
Aku sadar sepenuhnya, hanya dirinya lah yang aku inginkan. 
Aku mencintainya. 
Tidak ada kata lain yang dapat kuucap.
Labels: 1 comments | | edit post
Silvy
Seonggok hati 
Aku ini seonggok hati
Telah termiliki oleh seorang tuan yg baik hati.
Ia melumuriku dengan madu
Yang mengembangkan gairahku

Namun kini, aku ini seonggok hati
Yang hilang bak ditelan bumi
Tuanku meletakanku dalam kandang batu
Kadang ia melongok padaku.
Kadang ia seolah tak sadar akan eksistensiku.

Aku ini seonggok hati
Yang pasrah seolah mau mati
Luka-luka kecil tersayat dicucuk cuka
Membuat perih meradang, terluka

Ya, aku ini seonggok hati
Yang tak kenal tuanku lagi
Dulu hanya ada madu tanpa cuka
Lalu kenapa kini ia seperti murka?
Adakah ia membenci?
Atau ia sudah tidak peduli lagi?

Padaku, seonggok hati.
Labels: 0 comments | | edit post
Silvy
06 Januari 2011

Malam ini tanpa sengaja aku membaca kembali Direct Message Twitter antara aku dan orang yang aku kasihi. Ada interaksi yang hidup di sana. Interaksi yang bukan sekedar basa-basi atau rutinitas, tapi ada pembicaraan yang hidup di sana. Aku bisa merasakan ada ketertarikan satu sama lain dalam pembicaraan tersebut. Kehadiran yang nyata dari masing-masing pihak.
Sejujurnya, aku sangat merindukan masa-masa itu. Masa dimana aku bisa mengungkapkan apapun yang aku rasa kepadanya, tanpa ada perasaan takut akan respon penolakan yang ia berikan ataupun takut akan mengganggu dirinya.
Belakangan ini aku banyak marah. Marah karena tidak menerima keadaan yang kini telah berubah. Tidak ada lagi kata-kata manis. Tidak ada lagi perasaan bebas ketika hendak mengungkapkan segala sesuatunya. Tidak ada lagi kehadirannya yang aku rasakan. Ia seolah-olah membangun tembok antara aku dan hidupnya.
Tanggal 5 kemarin, aku membuat suatu kesalahan. Aku sadar setelah aku merenunginya di kamar sebelum mengantar kembaranku ke bandara. Aku bilang padanya kalau aku membencinya. Aku sadar bahwa aku tidak membencinya, aku mencintainya. Hanya saja aku benci keadaan yang sekarang ini terjadi.
Kadang dalam kesendirianku, aku termenung. Memikirkan apakah sesungguhnya ia masih mencintaiku, sama seperti ketika dulu ia memintaku untuk jadi kekasihnya? Kesalahan apa yang kubuat sehingga ia kini berubah? Apakah aku sudah mengecewakannya? Apa ia sudah jenuh terhadapku?
Aku banyak bertanya mengenai kondisi saat ini kepada orang-orang terdekatku. Aku sungguh sadar, aku tidak bisa membuatnya mencintaiku dengan cara yang aku inginkan. Dan kini aku belajar untuk menerimanya. Hal tersulit yang harus aku terima adalah dulu ia bisa melakukannya, dan sekarang tidak. Dulu, aku sungguh merasakan bahwa ia sungguh menyayangiku. Dan aku tidak mengerti kenapa saat ini keadaan berubah.
Seringkali aku bertanya dalam doaku, apa sungguh aku ini tulang rusuknya? Perjalanan yang aku hadapi semakin berat. Aku tidak mengerti. Sungguh tidak mengerti. Aku hanya tahu satu hal, aku mencintainya. Meskipun itu berarti aku harus menjalani proses yang cukup menyakitkan bagiku.
Aku harus terbiasa dengan reaksi penolakan yang ia berikan. Cukup sulit bagiku karena itu adalah daerah rentan bagi jiwaku. Aku punya banyak PR mengenai penerimaan diri. Sulit bagiku menerima penolakan yang diberikan orang lain. Cukup banyak penolakan yang pernah aku rasakan, dan itu aku masih berjuang untuk menerimanya. Kali ini PR yang aku miliki lebih besar, karena reaksi itu muncul dari orang yang paling aku kasihi.
Aku berusaha untuk tidak memiliki harapan apapun lagi terhadapnya. Meskipun aku saat ini tetap masih memiliki sedikit harapan bahwa ia sedikit saja memikirkan perasaanku. Dan setidaknya menunjukan kepadaku bahwa ia memang mencintaiku. Apa aku terlalu banyak meminta? Bisakah ia melakukannya untukku?
Aku sungguh-sungguh takut melakukan apapun kepadanya sekarang. Bahkan hari ini aku sangat ingin memeluk dan dipeluk olehnya. Tapi tidak aku lakukan. Lagi-lagi aku takut ia menolaknya. Entah apa yang harus aku lakukan agar aku bisa melihat kembali kekasihku yang dulu. Kekasihku yang penuh kasih sayang dan peduli padaku. Aku benar-benar merindukannya. Tuhan, tolong jangan ambil dia. Kembalikan ia padaku. 
Labels: 0 comments | | edit post
Silvy
Perempuan itu duduk sambil menatap nanar dirinya di cermin.
Bagai tak berisi jiwa, ia terdiam dalam bisu.
Tak terasa ada bulir-bulir hangat yang menetes dari sudut matanya.
Bibirnya gemetar, tenggorokannya tercekat. Ia menahannya.
Sunyi.. Sepi.. Ia biarkan pipi merahnya dibasahi tetes air mata.
Ia biarkan pula kedua matanya tetap terbuka.
Menatap sosoknya,  pada cermin di dinding kamarnya.
Rasa perih itu terus menderanya, air mata tak kunjung pergi dari wajahnya.
Inikah yang ia dambakan? tanyanya pada batin yang membisu.
Seperih ini kah mendapatkan sesuatu yang telah lama diidamkan?
Perempuan itu kian memaki, memaki dirinya sendiri.
Memaki pikiran serta hatinya.
"Mungkin Tuhan sedang memberi pelajaran padaku" dalam bisik ia bersuara..
"Ia telah memberikan apa yang aku minta, dan kini aku mempermainkan-Nya." lagi-lagi ia berkata dalam bisik yang hanya dapat didengar oleh dirinya.
Perempuan itu kembali menatap cermin.
Dilihatnya sosok gadis yang sangat kacau. Ia tidak mengenalinya.
Perlahan perempuan itu menyunggingkan senyum.
Senyum samar, hanya untuk memastikan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kata orang, ada pelangi sehabis hujan. Entah kapan hujan ini akan berhenti" Perempuan itu memegang kedua pipi yang masih dibasahi oleh air matanya.
Silvy
Judul di atas sangat menggambarkan apa yang gw rasakan beberapa waktu belakangan ini.

Gw selalu bersama dengan dia setiap harinya, berkomunikasi setiap saat, bahkan masih memiliki kedekatan secara fisik which means sentuhan-sentuhan masih dilakukan. Ya, itulah dekat di mata.

Tapi entah kenapa gw sama sekali ga merasakan kedekatan itu. Ketika secara nyata berada di dekat dia, gw sama sekali merasa kita jauh, kita ga dekat, kita adalah dua individu yang benar-benar terpisah.

Hal ini bener-bener bikin hari gw dirusak sama perasaan disonans nan menyebalkan ini. ada juga pepatah Jauh di mata dekat di hati. Kenapa ini malah kebalikan?

Gw ga tau apa yang menyebabkan. Kemungkinan kesibukan kita di saat-saat semester 5 ini salah satu faktornya. Tapi rasanya, komunikasi masih tetep lancar. Afeksi yang gw butuhkan masih gw dapatkan.
lalu apa?

Pasalnya, gw baru merasa dekat ketika dia ga ada di dekat gw. Lewat SMS, Chat, ataupun BBM.. Tapi lagi-lagi hal itu bikin gw kesal. Giliran gw merasa deket sama dia, kenapa orangnya ga ada?

Awfully desperate...
Silvy
Andai kata aku boleh mengeluh, rasanya ingin sekali bisa mengeluh.

Tapi diri ini, batin ini sama sekali melarangnya.

Tidak ada gunanya aku mengeluh. Keluhan tidak menyelesaikan apapun.

Tidak dengan pekerjaanku, begitu juga dengan tugas-tugasku.

Jadi sekali lagi, batin ini melarangnya.

Kadang, aku merasa sangat lelah, sangat tertekan.

Tidak ada yang dapat aku lakukan. Semua terasa begitu berat dan menimpaku tanpa ampun.

Ingin aku teriak, “Hey, beban ini sungguh berat. aku tidak sanggup” tapi lagi-lagi batin ini mengambil alih.

Tidak ada kata tidak sanggup dalam kamus hidupku. Meskipun kerap kali aku merasa diriku tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk melakukan suatu hal.

2 sisi diri ini sungguh menyiksaku. Perasaanku dan Pikiranku. Keduanya kerap kali bertentangan, membuatku bingung harus berbuat apa.

Kondisi kontradiktif ini kadang tidak hanya “melukai” diriku sendiri, tapi juga orang-orang yang berada di dekatku. Sensitif menjadi perasaan dominan yang kerap aku rasakan ketika berada di bawah tekanan. Galak mungkin sudah menjadi cap bagi diriku. Kadang sedih rasanya, namun aku sadar hal itu kenyataan. Kenyataan yang entah bagaimana merubahnya. Kenyataan yang membuatku justru semakin tertekan, dan semakin irritable.

Rasanya seperti terjerat lingkaran setan. Aku hanya ingin dimengerti. Sedang lelah untuk terus menerus memikirkan perasaan dan kebutuhan orang lain. Hanya ingin dibela, berada di pihak yang lemah, yang tidak perlu untuk terus menjadi kuat.
Rasanya ingin berteriak, “Hey, Aku juga manusia.” Manusia yang penuh dengan kelemahan. Manusia yang juga punya kebutuhan. Manusia yang juga butuh untuk menjadi lemah. Yang tidak senantiasa menjadi orang yang terlihat kuat.

Tapi apa aku punya kesempatan? Setiap aku menunjukan kelemahan, semua orang berkata bahwa aku harus kuat. Aku pasti bisa melaluinya. Aku sanggup dan harus tetap bersemangat. Rasanya tidak ada kesempatan.

Kerap kali, aku menahan rasa ini sendiri. Menahan tangis hingga dada ini sesak. Dada ini sakit. Aku lelah menangis sendiri. Tapi aku tak punya pilihan. Aku tak mungkin menunjukan kelemahanku. Tidak pada siapapun, tak terkecuali. Mungkin itu hal yang tabu. Baik bagi mereka, maupun diriku sendiri.

Kadang aku merasa diriku sangat cengeng. Tapi aku tak bisa menahan air mata yang jatuh mengalir, meskipun otakku sudah melarangnya. Tak jarang, aku menangis sambil menertawakan kondisiku.

Ketika orang terdekatku marah pun, aku menjadi sangat sedih. Lagi-lagi ingin menangis. Entah apa yang membuatku serapuh ini. Aku merasa ini bukan diriku. Tapi aku sungguh sadar, bahwa ini memang diriku seutuhnya. Diriku yang lemah, diriku yang tidak selalu kuat.

Aku merasa berada dalam kesendirian, meskipun banyak orang yang memperhatikanku. Mereka seperti tidak mengenalku. Mereka tidak paham kebutuhanku. Disatu sisi, aku enggan mengatakan kebutuhanku pada mereka. Sekali lagi, menjadi lemah adalah tabu bagiku dan bagi mereka. Meskipun itu kebutuhanku saat ini. Kebutuhan yang mungkin saja tidak dapat terpenuhi, karena aku tutup serapat mungkin. Meski tetap ada celah yang kerap membuatnya terlihat.

Aku menulis ini, bukan untuk mengeluh. Hanya sebagai media pengungkapan isi hati. Isi hati yang tak mungkin aku katakan pada siapapun. Isi hati yang mungkin tidak diketahui siapa pun. Isi hati tentang jerit dan tangis perih dalam hati yang sunyi.

Ini bukti pelampiasan perasaanku. Perasaan yang tak sanggup aku bendung lagi. Aku berbaginya pada catatan kecil dalam dunia maya ini. Hanya benda ini, satu-satunya yang tidak menganggap kelemahanku sebagai sebuah keburukan. Satu-satunya benda yang menerimaku apa adanya. Bahkan dengan segala kekurangan yang aku miliki. Tak ada kata yang pernah ia ucapkan, untuk mengomentari apapun dalam diriku, apapun yang aku lakukan, apapun yang aku rasakan. Ia sama sekali tidak pernah menyakitiku, tidak pernah menambah goresan di permukaan hati ini. Tidak sedikit pun.

Mungkin ini egois, tapi aku hanya ingin dimengerti.

 

-A.S. 2010-

Silvy

usThank you for our journey during the first month Smile

Let’s through another journey for the next months, together.

To love, care, and share each other in good or bad times Winking smile

Happy 1st month, honey

Red heartRed heartRed heart

Silvy
Luka perih yang dulu kau torehkan
Kini berusaha kau pulihkan
Kau ajarkanku tuk kembali mencinta
Dengan sejuta kata penuh makna


Rasa sakit yang dulu ada
Kini perlahan, kau ganti dengan canda tawa
Kau ajakku tuk kembali berdiri 
Mengarungi samudera yang telah menanti


Ku coba untuk membuka diri
Memberi kembali ruang pada hati ini
Rasa yang sedari dulu ku pendam
Mungkin kini tak lagi dapat teredam


Kebahagiaan akan perasaan dicinta
Membuat diriku ingin percaya
Selayaknya kita berdua bersama
Tercipta tuk saling mencinta

dedicated to my beloved best and boyfriend
Silvy
He finally comes to my life.


ITALY
I Trust And Love You




Wish the very best for US!


love you.
Silvy
Manusia itu datang setiap harinya
Pada pohon di ujung jalan rumahnya
Membuang gejolak yang ada
tentang rasa yang dimilikinya

Pohon diam tak berkata
Menelan setiap ucap rasa
Lantunan tentang cerita cinta
Yang didengar dari sang manusia

Manusia itu datang setiap harinya
Bersandar pada pohon di ujung jalan rumahnya
Merintang penat di jiwa
Akan gundah yang dicecapnya

Pohon terdiam tanpa daya
Hanya tersenyum menutup rasa
Tak bisa ia rengkuh sang manusia
Yang tak pernah menyadari kasih darinya

Manusia itu datang setiap harinya
Menemui pohon di ujung rumahnya
Berbagi rasa maupun tawa
Lewat goresan kata tentang butir cinta

Pohon diam, lagi tak bersuara
Menyembunyikan perih dalam lambai gembira
menyadari akan hakekat dirinya
Pohon tak bisa mencintai manusia

*sudah terbit pula di notes FB dan www.makna-kata.blogspot.com*
Silvy

Sepertinya sudah lama gw tidak menulis di blog gw ini. hahaha, kesibukan gw membuat gw kesulitan menemukan waktu untuk menulis di blog. Sekalipun ada, biasanya gw gunakan untuk beristirahat. Well, saat ini gw mau menuliskan sedikit catatan kecil mengenai perjalanan panjang yang gw lalui beberapa waktu ini. Here we go!

Perjalanan ini mengenai hidup gw yang menyangkut keorganisasian. Gw sangat menyukai dinamika yang ada di organisasi, baik konflik yang ada di dalamnya maupun kebersamaan yang juga dirasakan. Seperti yang sudah gw tulis di post gw sebelumnya, organisasi itu adalah KOMPSI. Gw sangat mencintai organisasi ini. Dan gw berhasil mendapatkannya J. Perjuangan gw mendapatkan organisasi ini sangat panjang dan menghasilkan tangis dan air mata.

Gw sudah berkecimpung di KOMPSI selama 1,5 tahun. Saat ini gw sedang menjalani tahun ke-2 gw di KOMPSI, sebagai seorang sekretaris. Awalnya, gw takut untuk menjadi sekretaris. Gw menyadari dengan sungguh, menjadikan gw seorang sekretaris adalah langkah awal untuk menyiapkan Gw menjadi seorang Sekjen. Namun setelah diyakinkan, dan mencari tahu jobdesc seorang sekretaris, akhirnya gw menyetujui untuk menjadi bagian dari BPH di KOMPSI Periode 2010-2011.

Baru setengah tahun menjalani peran sebagai seorang Sekretaris, pemilihan Wakil Angkatan (WA) periode 2011-2012 kembali dibuka. Gw mengalami konflik yang cukup berat ketika gw diminta untuk kembali menjadi WA. Terlalu banyak denial  yang gw lakukan dan terlalu banyak excuse yang gw sampaikan untuk menolak menjadi WA di periode selanjutnya. Gw mau lulus cepet jadi mau ambil seminar di semester 6, gw mau ambil les bahasa, gw udah cape organisasi, dan masih banyak lagi.

Setelah gw merenung dan menelaah kembali, semua excuse itu muncul dari ketakutan gw akan pengalaman di masa lalu, dimana gw merasa gagal dalam memimpin sebuah organisasi di Gereja.
Dengan jumlah orang yang sangat sedikit, gw dituntut untuk dapat melakukan banyak hal bersama dengan 4 orang lainnya. Dan karena gw sudah tidak sanggup untuk melanjutkannya, gw vakum dari organisasi itu. Gw merasa lelah karena 4 orang lainnya pun tidak sebegitu komitnya lagi dalam menjalani organisasi itu. Selain itu, orang yang di awal secara menggebu-gebu mendorong gw untuk menjadi ketua, secara perlahan hilang dan tidak banyak berkontribusi dalam organisasi ini.

Oh ya, pengalaman seperti ini terjadi 2 kali dalam waktu yang berdekatan di dua organisasi yang berbeda, dengan tipe karakteristik yang sama. Beranjak dari 2 pengalaman serupa, gw merasa gw tidak bisa menjadi seorang pemimpin yang baik. Ketika gw memimpin, hasilnya akan menjadi buruk. Stigma ini yang membuat gw menjadi takut akan “ketinggian” a.k.a jabatan tinggi.

Ketakutan gw ini membuat gw sangat tertekan. Gw merasa ketika gw memutuskan untuk masuk lagi menjadi WA, berarti secara tidak langsung gw bersedia untuk menjadi calon sekjen. itu sudah 1 paket dalam benak gw. Gw tidak siap dan gw takut kejadian yang sama akan berulang lagi ketika gw menjadi Sekjen di KOMPSI. Gw takut di tangan gw, KOMPSI akan mengalami kegagalan yang sama.

Mengatasi ketakutan gw ini, gw bercerita banyak dengan salah satu senior gw. Orang yang cukup signifikan dalam kehidupan berorganisasi gw. Dia cukup memberi banyak masukan dan data-data obyektif tentang diri gw sehingga gw merasa sedikit yakin. Awalnya, gw mau memberikan keputusan gw untuk jadi calon WA terpilih ketika gw sudah ngobrol-ngobrol dengan salah seorang mantan Sekjen yang cukup terkenal di Psikologi. Orang ini adalah sosok yang gw sangat kagumi sejak pertama kali gw ikut rapat yang cukup penting yang melibatkan WA, dia, dan seorang petinggi organisasi lain di Psikologi (dan selalu diketawain sama anak psikologi lain yang tau. Hahahaha.) Namun, ternyata dia harus pergi ke China, dalam waktu yang cukup lama. Dan gw berpikir tidak memungkinkan untuk membahas masalah ini karena gw baru mau ngobrol sama dia, sehari sebelum dia berangkat ke China. Gw berkali-kali bilang ke Sekjen gw yang sekarang, bahwa gw akan kasih keputusan ketika gw sudah ngobrol-ngobrol dengan orang itu.

Di tengah kebingungan gw dalam mengambil keputusan, akhirnya gw terdorong untuk mengikuti sebuah persekutuan doa rutin yang ada di Gereja gw. Ketika itu, tema pengajaran yang diberikan adalah “mengubah ketakutan menjadi kekuatan” sangat sesuai dengan kondisi yang gw alami. Dari pengajaran hari itu gw meyakinkan diri untuk melawan ketakutan gw untuk menjadi seorang pemimpin. Gw mau keluar dari zona nyaman gw. Gw memantapkan diri untuk menjadi calon WA dan ikut putaran voting II, bahkan sebelum gw berbicara dengan orang yang awalnya gw jadikan penentu keputusan gw untuk maju atau mundur.
Ternyata kebulatan tekad memang selalu diuji. Ketika gw sudah bersedia untuk kembali menjadi calon WA, ternyata gw mendengar kabar yang membuat gw tertekan. Tidak adanya calon ketua HIMAPSI (salah satu organisasi dibawah naungan KOMPSI, yang memfasilitasi kebutuhan mahasiswa yang belum dipenuhi di Unit Kegiatan Mahasiswa yang ada di Psikologi) dan calon WA 2007++. Berita ini cukup menekan gw karena ada tanggung jawab tidak terduga yang harus gw terima. Dan gw tidak siap untuk itu. Gw bingung dan merasa terbeban, karena gw berpikir dengan jumlah pengurus yang berkurang, gw harus menerima tanggung jawab yang lebih besar. Gw merasa ada kemiripan dengan 2 pengalaman yang gw hadapi sebelumnya. Keyakinan gw goyah, dan gw sangat takut dan tertekan akan mengalami kejadian yang sama lagi.

Tapi itu semua bisa gw atasi, karena gw diajak berpikir secara lebih positif, tidak melihat kedua hal itu sebagai hambatan, namun lebih sebagai hal yang menguntungkan. Yah meskipun gw sampe sakit kepala gara-gara memikirkan hal ini. Abis caranya radikal sih, merubah mindset gw secara cepat. But it works! Gw menjadi lebih yakin kalau gw bisa melalui hal itu. Gw mulai banyak mencari info-info dengan beberapa orang yang dirasa cukup oke dalam hal keorganisasian. Gw mendiskusikan mengenai masalah yang terjadi. Pemahaman organisasi gw semakin bertambah dan gw semakin tahu harus melakukan apa. Bahkan dengan berbicara ke beberapa orang ini, gw jadi menemukan hal apa yang harus gw lakukan di tahun depan (semua kejadian pasti ada hikmahnya ya)

Nah, krikil terakhir yang menguji kebulatan tekad gw adalah kejadian yang terjadi ketika Voting II berlangsung! Di hari pertama voting, gw masih merasa santai dan tidak memikirkan perhitungan suara, sampai akhirnya di hari kedua (Selasa), Sekjen gw tiba-tiba sms dan memberitahu bahwa suara untuk gw di Voting II tidak signifikan. Bahkan cenderung tereliminasi. LAGI LAGI kecemasan mulai melanda gw. Gw melakukan kampanye untuk meminta teman-teman angkatan gw memilih gw. Hal ini cukup berat untuk gw. Gw merasa kenapa gw harus meminta dipilih, kalau memang sudah tidak dipercaya untuk menampung aspirasi angkatan gw. Meskipun berat, gw tetap melakukan. Gw minta bantuan ke beberapa orang untuk jadi tim sukses gw. Dan mereka memang dari awal adalah orang-orang yang mendukung gw. Gw sangat bersyukur dan berterima kasih kepada mereka. Tanpa mereka, mungkin gw tidak sanggup menjalani hari-hari pemilihan yang membuat gw banyak menangis. Gw merasa sangat disonans, ketika saat itu masih dielu-elukan sebagai calon sekjen, di satu sisi gw tidak melihat ada dukungan suara yang diberikan. Selain itu, gw juga merasa tidak mendapat dukungan dari significant other gw. Kecewa dan sedih rasanya. Hal ini membuat gw sangat down. Di saat banyak orang lain yang mendukung gw, justru gw merasa tidak mendapat dukungan dari orang yang cukup penting di hidup gw. Di hari sebelum pemilihan WA terakhir, dimana kedudukan suara gw turun jd peringkat ke 6, gw mengetahui bahwa significant other gw tidak setuju dengan cara yang gw lakukan. Hal ini membuat gw ingin menyerah. Hari itu gw juga sangat menyesal dengan keputusan gw untuk tidak mengambil kesempatan sebagai WA mandiri.

Di hari terakhir pemilihan, gw cemas dan panik seharian. Di kelas Kontruksi Tes, gw sama sekali tidak konsentrasi. Pikiran gw ada di bilik pemilihan. Hari ini bakal jadi hari “kematian” buat gw. Itu yang ada dibenak gw. Setiap ada jam kosong, gw cabut ke Plaza Semanggi. Gw bersyukur ada 2 temen gw yang setia nemenin gw escape. Marsha dan Kenny. I thank them so much! Ditengah kegalauan gw, kecemasan gw, gw bersyukur ada mereka. Dari maksa gw makan, sampe akhirnya bisa bikin gw tertawa meskipun ga lepas. Pas perhitungan suara pun gw kabur. Ga mau ikut. Ga mau tau. Sejujurnya gw ga siap untuk terima berita kalau gw harus cabut dari KOMPSI taun depan. maka dari itu gw ga mau tau secara langsung perolehan suara yang gw dapatkan.

Seharian itu, gw benar-benar kabur dari semua masalah tentang pemilihan. Tapi semakin sore, entah kenapa ada perasaan tenang. Ga seperti siangnya yang bikin gw psikosomatis. Gw menghabiskan waktu gw dengan membeli cemilan buat rapat evaluasi tengah tahun yang akan berlangsung hari itu dengan menginap di kampus.
Gw baru mengetahui jumlah suara yang gw peroleh ketika rapat evaluasi berlangsung dan topik pertama yang dibahas adalah perolehan suara. Sekjen gw saat itu yang membacakan perolehan suara. Dimulai dari 2007++, 2008, dst. Gw tetap tenang mendengarkan. Hingga akhirnya giliran 2008 dibacakan, ternyata nama gw keluar sebagai calon WA dengan perolehan suara tertinggi, sama seperti satu calon lain. Gw sungguh terharu meskipun ga terlalu kaget, dengan kedudukan yang gw peroleh. Gw hanya berharap bisa menduduki peringkat ke 4, tapi nyatanya gw melebih hal itu. Saat itu gw menangis, tapi kali ini gw menangis lega dan terharu. Pengumuman perolehan suara itu juga disambut kelegaan beberapa WA lainnya. Gw sungguh senang akan hal itu. Dan yang langsung terpikir di benak gw adalah untuk langsung menghubungi senior gw, dan mantan sekjen yang gw kagumi (udah dibilang di atas) karena kontibusi mereka sangat besar dalam membantu gw melewati masa-masa sulit ini.

Saat ini gw sungguh bersyukur mengalami serangkaian kejadian yang gw ceritakan. Tanpa adanya itu semua, mungkin gw tidak akan seyakin dan sekuat sekarang ini. Meskipun gw juga masih butuh banyak berproses, namun pengalaman yang gw alami ini menjadi sesuatu yang berharga buat gw. Seandainya gw dulu menjadi WA mandiri, mungkin gw tidak akan melewati serangkaian proses yang cukup mendewasakan gw. Gw juga merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada orang-orang yang banyak sekali berkontribusi dalam membantu gw melewati kejadian-kejadian ini. Tanpa mereka mungkin tidak akan ada hari seperti hari ini. Untuk ke depannya, gw akan mengusahakan semampu gw segala hal agar tidak mengecewakan orang-orang yang sudah sangat mendukung gw. Mengutip dari salah satu notes temen gw,

Cause I can’t pay it back, only pay it forward...
Silvy
Ada ga ya kursus kepemimpinan?
Kursus yang bikin peserta didiknya bakal jadi seorang pemimpin ketika lulus dari kursus itu.
Rasanya aneh ya, ketika mendengar ada kursus buat jadi seorang pemimpin.
dan mungkin, tempat kursus itu akan laku, diisi oleh orang-orang yang mau jadi pemimpin cuma ga tau mereka itu bisa ato engga. maka dari itu mungkin mereka akan kursus di sana.

Belakangan ini, gw cukup jengah mendengar para calon pemimpin yang acap kali mempertanyakan potensi mereka, dan mencoba mencari jalan termudah untuk bisa mencapai kebutuhan mereka untuk memimpin.
jadi WAKIL. dalam hati, kok rasanya  gampang sekali ya? kenapa harus mencari jalan aman seperti itu?

Mungkin, ini juga yang dirasakan oleh orang-orang yang memberikan support kepada gw, dan meyakinkan gw pada potensi-potensi dalam diri gw. Mungkin mereka jengah dan lelah. tapi pada akhirnya gw mau untuk mengambil tantangan itu. menantang potensi-potensi yang memang gw miliki. ada quote yang sangat menggugah gw ketika gw mempertimbangkan untuk menjadi seorang pemimpin.
Challange your limit, but do not limit your challange

Beberapa hari ini, gw berusaha menyadarkan para calon pemimpin yang lain akan potensi yang mereka miliki. dan gw mengalami frustrasi berat, karena gw merasakan kecenderungan negatif dalam diri mereka sangat besar. LELAH, CAPE, JENGAH. itu yang gw rasakan.

Sejujurnya, gw bukan menyuruh mereka untuk menjadi ketua ketua. gw hanya menyuruh mereka untuk memberanikan diri mereka, keluar dari zona nyaman mereka selama ini. namun tidak mudah ternyata.
Semua kembali lagi ke diri sendiri. Sebanyak apa pun orang yang membantu menyadarkan potensi-potensi di dalam diri kita, kalau dari dalam diri sendiri tidak mau untuk bergerak, semua ucapan dari orang-orang tersebut hanya angin lalu belaka. Tidak ada efek atau dampaknya bagi diri sendiri, karena mereka tidak mau keluar dari zona nyaman tempat mereka berada selama ini.
Silvy
Kemarin diriku yang lain pergi.
Ke benua lain. Aku pikir tidak akan merasakan apapun.
Apa lagi konflik sering terjadi. Ternyata, 2 hari kesedihan tak terbendung.
Air mata tertahan yang tumpah bak hujan gerimis.
Yah, bagaimanapun juga sejak semula kami adalah satu. Kalau sekarang berpisah pasti sedih pula.
Hanya berdoa yang terbaik untuknya. Ia pasti bisa melalui harinya dengan baik di sana.
Begitu pula dengan diriku. Ketika nanti kami bertemu, kami berdua sudah tidak lagi sama.
Semakin dewasa dan semakin membanggakan satu sama lain.
Ya, pada saatnya nanti.
Silvy
Air danau yang tenang itu kembali beriak.
Tersentuh oleh helai daun yang jatuh dari pepohonan.
Sepertinya tidak begitu berarti. Hanya sebuah pemandangan yang biasa.
Tapi tidak halnya dengan sang Danau.
Air itu bagian dirinya. Pusat kehidupannya.
Bagaikan jantung manusia. Tanpa air, danau bukan apa-apa.
Riak itu semakin meluas. Mengusik danau hingga ke dasarnya.
Riak-riak itu terus bergelombang. Gelombang yang tenang dan menghanyutkan.
Danau terlena pada riak yang dibuat oleh daun. Hingga danau tak mau melepaskan daun daripadanya
Kini daun itu ikut tenggelam. Menelusuri hingga kedalaman sang Danau.
Daun tidak menyadari apa yang dirasakan oleh sang Danau.
Ia hanya terus mengusiknya dari dalam, tanpa pernah tau apa akibat keberadaan dirinya.
Daun terus bersinggasana di dasar danau. Menyatu dengannya.
Kejadian yang sama akan terus berulang. Ketika Daun kembali hadir di atas permukaan air sang Danau.
Sebuah siklus yang tak akan terhenti. Sampai pohon itu tak lagi mempertemukan Daun dengan sang Danau.