Silvy
Perempuan itu duduk sambil menatap nanar dirinya di cermin.
Bagai tak berisi jiwa, ia terdiam dalam bisu.
Tak terasa ada bulir-bulir hangat yang menetes dari sudut matanya.
Bibirnya gemetar, tenggorokannya tercekat. Ia menahannya.
Sunyi.. Sepi.. Ia biarkan pipi merahnya dibasahi tetes air mata.
Ia biarkan pula kedua matanya tetap terbuka.
Menatap sosoknya,  pada cermin di dinding kamarnya.
Rasa perih itu terus menderanya, air mata tak kunjung pergi dari wajahnya.
Inikah yang ia dambakan? tanyanya pada batin yang membisu.
Seperih ini kah mendapatkan sesuatu yang telah lama diidamkan?
Perempuan itu kian memaki, memaki dirinya sendiri.
Memaki pikiran serta hatinya.
"Mungkin Tuhan sedang memberi pelajaran padaku" dalam bisik ia bersuara..
"Ia telah memberikan apa yang aku minta, dan kini aku mempermainkan-Nya." lagi-lagi ia berkata dalam bisik yang hanya dapat didengar oleh dirinya.
Perempuan itu kembali menatap cermin.
Dilihatnya sosok gadis yang sangat kacau. Ia tidak mengenalinya.
Perlahan perempuan itu menyunggingkan senyum.
Senyum samar, hanya untuk memastikan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kata orang, ada pelangi sehabis hujan. Entah kapan hujan ini akan berhenti" Perempuan itu memegang kedua pipi yang masih dibasahi oleh air matanya.
Silvy
Judul di atas sangat menggambarkan apa yang gw rasakan beberapa waktu belakangan ini.

Gw selalu bersama dengan dia setiap harinya, berkomunikasi setiap saat, bahkan masih memiliki kedekatan secara fisik which means sentuhan-sentuhan masih dilakukan. Ya, itulah dekat di mata.

Tapi entah kenapa gw sama sekali ga merasakan kedekatan itu. Ketika secara nyata berada di dekat dia, gw sama sekali merasa kita jauh, kita ga dekat, kita adalah dua individu yang benar-benar terpisah.

Hal ini bener-bener bikin hari gw dirusak sama perasaan disonans nan menyebalkan ini. ada juga pepatah Jauh di mata dekat di hati. Kenapa ini malah kebalikan?

Gw ga tau apa yang menyebabkan. Kemungkinan kesibukan kita di saat-saat semester 5 ini salah satu faktornya. Tapi rasanya, komunikasi masih tetep lancar. Afeksi yang gw butuhkan masih gw dapatkan.
lalu apa?

Pasalnya, gw baru merasa dekat ketika dia ga ada di dekat gw. Lewat SMS, Chat, ataupun BBM.. Tapi lagi-lagi hal itu bikin gw kesal. Giliran gw merasa deket sama dia, kenapa orangnya ga ada?

Awfully desperate...
Silvy
Andai kata aku boleh mengeluh, rasanya ingin sekali bisa mengeluh.

Tapi diri ini, batin ini sama sekali melarangnya.

Tidak ada gunanya aku mengeluh. Keluhan tidak menyelesaikan apapun.

Tidak dengan pekerjaanku, begitu juga dengan tugas-tugasku.

Jadi sekali lagi, batin ini melarangnya.

Kadang, aku merasa sangat lelah, sangat tertekan.

Tidak ada yang dapat aku lakukan. Semua terasa begitu berat dan menimpaku tanpa ampun.

Ingin aku teriak, “Hey, beban ini sungguh berat. aku tidak sanggup” tapi lagi-lagi batin ini mengambil alih.

Tidak ada kata tidak sanggup dalam kamus hidupku. Meskipun kerap kali aku merasa diriku tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk melakukan suatu hal.

2 sisi diri ini sungguh menyiksaku. Perasaanku dan Pikiranku. Keduanya kerap kali bertentangan, membuatku bingung harus berbuat apa.

Kondisi kontradiktif ini kadang tidak hanya “melukai” diriku sendiri, tapi juga orang-orang yang berada di dekatku. Sensitif menjadi perasaan dominan yang kerap aku rasakan ketika berada di bawah tekanan. Galak mungkin sudah menjadi cap bagi diriku. Kadang sedih rasanya, namun aku sadar hal itu kenyataan. Kenyataan yang entah bagaimana merubahnya. Kenyataan yang membuatku justru semakin tertekan, dan semakin irritable.

Rasanya seperti terjerat lingkaran setan. Aku hanya ingin dimengerti. Sedang lelah untuk terus menerus memikirkan perasaan dan kebutuhan orang lain. Hanya ingin dibela, berada di pihak yang lemah, yang tidak perlu untuk terus menjadi kuat.
Rasanya ingin berteriak, “Hey, Aku juga manusia.” Manusia yang penuh dengan kelemahan. Manusia yang juga punya kebutuhan. Manusia yang juga butuh untuk menjadi lemah. Yang tidak senantiasa menjadi orang yang terlihat kuat.

Tapi apa aku punya kesempatan? Setiap aku menunjukan kelemahan, semua orang berkata bahwa aku harus kuat. Aku pasti bisa melaluinya. Aku sanggup dan harus tetap bersemangat. Rasanya tidak ada kesempatan.

Kerap kali, aku menahan rasa ini sendiri. Menahan tangis hingga dada ini sesak. Dada ini sakit. Aku lelah menangis sendiri. Tapi aku tak punya pilihan. Aku tak mungkin menunjukan kelemahanku. Tidak pada siapapun, tak terkecuali. Mungkin itu hal yang tabu. Baik bagi mereka, maupun diriku sendiri.

Kadang aku merasa diriku sangat cengeng. Tapi aku tak bisa menahan air mata yang jatuh mengalir, meskipun otakku sudah melarangnya. Tak jarang, aku menangis sambil menertawakan kondisiku.

Ketika orang terdekatku marah pun, aku menjadi sangat sedih. Lagi-lagi ingin menangis. Entah apa yang membuatku serapuh ini. Aku merasa ini bukan diriku. Tapi aku sungguh sadar, bahwa ini memang diriku seutuhnya. Diriku yang lemah, diriku yang tidak selalu kuat.

Aku merasa berada dalam kesendirian, meskipun banyak orang yang memperhatikanku. Mereka seperti tidak mengenalku. Mereka tidak paham kebutuhanku. Disatu sisi, aku enggan mengatakan kebutuhanku pada mereka. Sekali lagi, menjadi lemah adalah tabu bagiku dan bagi mereka. Meskipun itu kebutuhanku saat ini. Kebutuhan yang mungkin saja tidak dapat terpenuhi, karena aku tutup serapat mungkin. Meski tetap ada celah yang kerap membuatnya terlihat.

Aku menulis ini, bukan untuk mengeluh. Hanya sebagai media pengungkapan isi hati. Isi hati yang tak mungkin aku katakan pada siapapun. Isi hati yang mungkin tidak diketahui siapa pun. Isi hati tentang jerit dan tangis perih dalam hati yang sunyi.

Ini bukti pelampiasan perasaanku. Perasaan yang tak sanggup aku bendung lagi. Aku berbaginya pada catatan kecil dalam dunia maya ini. Hanya benda ini, satu-satunya yang tidak menganggap kelemahanku sebagai sebuah keburukan. Satu-satunya benda yang menerimaku apa adanya. Bahkan dengan segala kekurangan yang aku miliki. Tak ada kata yang pernah ia ucapkan, untuk mengomentari apapun dalam diriku, apapun yang aku lakukan, apapun yang aku rasakan. Ia sama sekali tidak pernah menyakitiku, tidak pernah menambah goresan di permukaan hati ini. Tidak sedikit pun.

Mungkin ini egois, tapi aku hanya ingin dimengerti.

 

-A.S. 2010-

Silvy

usThank you for our journey during the first month Smile

Let’s through another journey for the next months, together.

To love, care, and share each other in good or bad times Winking smile

Happy 1st month, honey

Red heartRed heartRed heart

Silvy
Luka perih yang dulu kau torehkan
Kini berusaha kau pulihkan
Kau ajarkanku tuk kembali mencinta
Dengan sejuta kata penuh makna


Rasa sakit yang dulu ada
Kini perlahan, kau ganti dengan canda tawa
Kau ajakku tuk kembali berdiri 
Mengarungi samudera yang telah menanti


Ku coba untuk membuka diri
Memberi kembali ruang pada hati ini
Rasa yang sedari dulu ku pendam
Mungkin kini tak lagi dapat teredam


Kebahagiaan akan perasaan dicinta
Membuat diriku ingin percaya
Selayaknya kita berdua bersama
Tercipta tuk saling mencinta

dedicated to my beloved best and boyfriend
Silvy
He finally comes to my life.


ITALY
I Trust And Love You




Wish the very best for US!


love you.
Silvy
Manusia itu datang setiap harinya
Pada pohon di ujung jalan rumahnya
Membuang gejolak yang ada
tentang rasa yang dimilikinya

Pohon diam tak berkata
Menelan setiap ucap rasa
Lantunan tentang cerita cinta
Yang didengar dari sang manusia

Manusia itu datang setiap harinya
Bersandar pada pohon di ujung jalan rumahnya
Merintang penat di jiwa
Akan gundah yang dicecapnya

Pohon terdiam tanpa daya
Hanya tersenyum menutup rasa
Tak bisa ia rengkuh sang manusia
Yang tak pernah menyadari kasih darinya

Manusia itu datang setiap harinya
Menemui pohon di ujung rumahnya
Berbagi rasa maupun tawa
Lewat goresan kata tentang butir cinta

Pohon diam, lagi tak bersuara
Menyembunyikan perih dalam lambai gembira
menyadari akan hakekat dirinya
Pohon tak bisa mencintai manusia

*sudah terbit pula di notes FB dan www.makna-kata.blogspot.com*